Lalu gelombang rasa sakit menubrukku, menghantam dan menghancurkan tubuhku.
Jutaan pertanyaan
menusuk-nusuk dan tak membiarkan ku melewati malam dengan
tenang, bahkan untuk sekedar merebahkan badan sambil bernapas
pelan-pelan.
Bernapas saja sudah begini menyakitkan. Luka macam apa yang tertinggal ini?
Kegelapan di dalam kamar menyergap bersamaan dengan rasa nyeri yang bahkan tidak mau menghilang saat pagi tiba. Duri itu ada dimana-mana, bahkan terasa menembus paru-paru sehingga menarik napaspun rasanya seperti tercekik perlahan-lahan. Bisa terlelap itu berkah yang tak lama kemudian menjadi musibah. Karena rasa perih itu bahkan muncul di dalam mimpi.
Malam-malam
dalam sunyi akhirnya bisa terlewati, bisikan-bisikan serupa sedu sedan
selalu mengalun. Berdoa setiap waktu terasa tidak lagi cukup
untuk mengadu.
Sebanyak yang ku bisa, sebanyak yang ku mampu, semua percakapan-percakapan rahasia itu terus menerus ku lakukan. Berharap segera turunnya Penyembuh luka hati yang tidak terbaca. Tangisan lirih di setiap kata-kata yang terucap, menjadi harapan akan penyembuhan dan pemulihan hati yang tersayat.
Dari sekian banyak tanya yang ku ajukan, satu permintaan yang selalu ku ulang-ulang. Dalam lirih ku memohon..
"Ambil
kembali seluruh rasa sakit, pertanyaan, amarah, dan kecewa ini, Ya
Tuhan. Aku kembalikan lagi semuanya kepadaMu. Seluruhnya. Aku kembalikan
semua kepadaMu. Tapi gantikan dengan kesabaran, dan keikhlasan untuk
mengisi kekosongannya. Aku serahkan semuanya kepadaMu. Ambil lagi
semuanya. Karena aku butuh kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa
besar untuk menjalaninya. Dan hanya Engkau yang bisa. Tidak ada lagi
yang lainnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar